Assalamu ‘alaikum. Bismillahirrahmanirrahim. Allahuma Shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad. Dalam artikel kali ini kami akan membahas mengenai 4 Derajat Hadits Utama Dalam Syi’ah dan Contohnya, sebagai lanjutan dari  bahasan kami  sebelumnya yang berjudul Beberapa Istilah Dalam Ilmu Hadist.

Dalam kajian ilmu hadits Ahlu Sunnah ketika membahas masalah derajat hadits dari sisi sanad, maka akan ditemukan berbagai derajat hadits.

Dan kesemuanya menginduk kepada 3 (tiga) derajat hadits yang secara umum dalam kajian ilmu hadits Ahlu Sunnah 3 (tiga) derajat hadits ini menjadi 3 (tiga) derajat yang utama yaitu shahih, hasan, dan dhaif.

Begitu pula dalam kajian ilmu hadits Syiah Imamiyah dari sisi sanad pada masa sekarang, dari beragam jenis hadits yang ada semuanya merujuk kepada 4 Derajat Hadits Utama Dalam Syi’ah yaitu Shahih, hasan, muwatsaq, dan dhaif.

 

Pengertian Dari 4 Derajat Hadits Utama Dalam Syi’ah

Shahih

Yang dimaksud derajat hadits shahih ini adalah :

هو المسند الذي تتامت فيه سلسلة السند من آخر راو له حتى المعصوم الذي صدر منه الحديث، مع اشتراط أن يكون كل واحد من الرواة في جميع أجيال الرواية إماميا عادلا ضابطا في حفظه للحديث ونقله له.

Hadits Shahih adalah Hadits yang memiliki sanad, yang sanad tersebut sempurna dalam silsilah sanadnya dari perawi akhir hingga sampai kepada para Maksum yang menjadi di sumber merujuknya hadis.

Serta disyaratkan setiap para perawi yang ada dalam sanad, dalam setiap tingkatannya adalah perawi imamiyah yang adil, dhabit dalam hafalan hadistnya, dan menukil hadits tersebut secara langsung.

 

Hasan

Yang dimaksud derajat hadits hasan ini adalah:

هو ما اتصل سنده إلى المعصوم بإمامي ممدوح من غير نص على عدالته، مع تحقق ذلك في جميع مراتبه أو في بعضها مع كون الباقي من رجال الصحيح

Hadits Hasan adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada para maksum melalui para perawi imamiyah yang mamduh yang tidak ada untuknya nash mengenai keadilannya,  yang kesemuanya diketahui dengan jelas pada seluruh tingkatannya atau sebagiannya, serta diketahui bahwa perawi lainnya adalah para perawi shahih.

 

Muwatsaq

Yang dimaksud derajat hadits muwatsaq adalah:

وهو ما دخل في طريقه من ليس بإمامي، ولكنه منصوص على توثقه بين الأصحاب

Hadits muwatsaq adalah hadits yang pada sanad atau jalan periwayatannya ada perawi yang bukan imamiyah, akan tetapi ada nash mengenai ketautsiqannya (keterangan yang jelas bahwa perawi ini dipercaya) diantara ashab (para ulama imamiyah). 

 

Dha’if

Yang dimaksud hadits dha’if adalah:

وعرفوه بأنه الذي لا تجتمع فيه شروط أحد الأقسام الثلاثة المتقدمة.

Hadits dhaif adalah hadits yang diketahui pada sanadnya tidak terkumpul syarat-syarat dari salah satu itu 3 (tiga) derajat hadits yang telah dijelaskan sebelumnya (shahih, hasan, dan muwatsaq).

Penjelasan mengenai 4 derajat hadits utama dalam syi’ah tersebut kami kutip dari Kitab Ushul Hadits, karya DR ‘Abdul Hadi Fadhli, hlm. 107-108.

Dari 4 derajat hadits utama dalam syi’ah  yang telah disebutkan di atas, pada bahasan terperinci ada beberapa perbedaan pendapat yang terjadi dalam kalangan para ulama ahli hadits.

Entah mengenai masalah kedhabitan, keadilan, ketsiqatan, pembagian sub-derajat hadits, dan lain-lain. Apa yang telah kami sampaikan di atas dapat mewakili penjelasan secara umum. 

 

Contoh 4 Derajat Hadits Utama Dalam Syi’ah

Contoh Hadits Derajat Shahih

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، ومحمد بن إسماعيل، عن الفضل بن شاذان النيسابوري جميعا، عن صفوان بن يحيى، عن أبي الحسن الرضا عليه السلام قال: إن من علامات الفقه (في بعض النسخ ى الفقيه) الحلم والصمت

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa, dan Muhammad bin Isma’il dari Fadhl bin Syazan An-naisaburi, seluruh dari Shafwan bin Yahya dari Abi Al-hassan Ar-ridha AS, telah berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri seorang yang faqih adalah sopan dan diam”.

Menurut ‘Alamah Majlisi hadits ini derajatnya Shahih.

(Mir’atul ‘Uqul, Juz. 1, hlm. 120, hadits ke. 4)

 

Contoh Hadits Derajat Hasan

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن بعض أصحابه، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إذا مات المؤمن الفقيه ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها شئ

‘Ali bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibn Abi ‘umair dari sebagian sahabatnyaa dari Abi ‘Abdillah AS, telah berkata: “Jika wafat seorang mukmin yang faqih telah terjadi kebocoran dalam Islam yang kebocoran tersebut tidak dapat ditambal oleh apapun”

Menurut ‘Alamah Majlisi, hadits ini derajatnya Hasan.

(Mir’atul ‘uqul, juz. 1, hlm. 124, hadits ke. 2)

 

Hadits Derajat Muwatsaq

عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد بن خالد، عن عثمان بن عيسى، عن أبي أيوب الخزاز، عن سليمان بن خالد، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: ما من أحد يموت من المؤمنين أحب إلى إبليس من موت فقيه

Sejumlah daripada sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Khalid dari ‘Utsman bin ‘Isa dari Abi Ayub Al-khazaz dari Sulaiman bin Khalid dari Abi ‘Abdillah AS, telah berkata: “Tidak ada satupun kematian dari orang-orang beriman yang lebih dicintai Iblis daripada kematian orang yang faqih

Menurut ‘Alamah Majlisi hadits ini derajatnya Muwatsaq.

(Mir’atul ‘uqul, juz. 1, hlm. 124, hadits ke. 1)

 

Contoh Hadits Derajat Dha’if

أخبرنا محمد بن يعقوب، عن علي بن إبراهيم بن هشام [عن أبيه] عن الحسن ابن أبي الحسين الفارسي، عن عبد الرحمن بن زيد، عن أبيه، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قال رسول الله عليه السلام: طلب العلم فريضة على كل مسلم، ألا إن الله يحب بغاة العلم

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ya’qub dari ‘Ali bin Ibrahim (dari ayahnya) dari Hassan inn Abil Hassan Al-farisi dari ‘Abdurrahman bin Zaid dari Ayahnya dari Abi ‘Abdillah AS, telah berkata: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim , bukankah Allah mencintai para penuntut ilmu”

Menurut ‘Alamah Majlisi, derajat hadits ini Majhul.

(Mir’atul ‘Uqul, Juz. 1, hlm. 98, hadits ke. 1)

 

Penjelasan Contoh 4 Derajat Hadits Utama Dalam Syi’ah

Hadits pertama berderajat shahih. Karena menurut penilaian penulis Mir’ah hadits tersebut memiliki sanad, yang sanad tersebut sempurna.

Dalam silsilah sanadnya dari perawi akhir hingga sampai kepada para Makshum yang menjadi di sumber merujuknya hadits.

Serta setiap para perawi yang ada dalam sanad, dalam setiap tingkatannya adalah perawi imamiyah yang adil, dhabit dalam hafalan hadistnya, dan menukil hadits tersebut secara langsung.

Hadits kedua berderajat hassan. Karena menurut penilaian penulis Mir’ah hadits tersebut bersambung sanadnya.

Bersambung kepada para maksum melalui para perawi imamiyah yang mamduh yang tidak ada untuknya nash mengenai keadilannya,  yang kesemuanya diketahui dengan jelas pada seluruh tingkatannya atau sebagiannya, serta diketahui bahwa perawi lainnya adalah para perawi shahih.

Hadits ketiga berderajat Muwatsaq. Karena menurut penulis Mir’ah hadits tersebut  sanad atau jalan periwayatannya ada perawi yang bukan imamiyah, akan tetapi ada nash mengenai ketautsiqannya (keterangan yang jelas bahwa perawi ini dipercaya) diantara ashab (para ulama imamiyah). 

Hadits keempat berderajat Majhul. Karena menurut penulis Mir’ah pada sanadnya tidak terkumpul syarat-syarat dari salah satu 3 (tiga) derajat hadits yang telah dijelaskan sebelumnya (shahih, hasan, dan muwatsaq).

 

Kesimpulan 4 Derajat Hadits Utama Dalam Syi’ah

Jadi dalam Syi’ah Imamiyah sama seperti dalam Ahlu Sunnah kajian ilmu hadits dan rijal hadits itu ada.

Walaupun kitab-kitab dan kaidah-kaidahnya berbeda akan tetapi tujuannya sama, yaitu menganalisa apakah hadits-hadits yang telah ada dan beredar itu layak diamalkan dan diyakini atau tidak. 

Dan kalau sudah ditemukan layak amal dalam fiqih, layak di imani dalam aqidah, maka yang layak amal secara fiqih tersebut berlanjut dikaji oleh ilmu fiqih dan ushul fiqih.

Agar diketahui hadits-hadits yang layak amal tersebut tepatnya diletakan pada situasi apa dan bagaimana. Tepatnya dihukumkan pada mukalaf dengan kondisi dan situasi bagaimana, dan lain-lain. 

Dan hadits-hadits yang sudah diketahui layak diimani, dikaji oleh ilmu aqidah atau kalam apakah hadits-hadits yang layak di imani tersebut masuk ke bab tauhid, nubuwah, imamah, ma’ad, dan atau al-‘adl.

Sebagai ushul aqidah atau furu’ aqidah, sebagai ushulludin atau ushul mazhab, dan lain-lain.

Sehingga umat terjaga dari kesalahan dalam mengamalkan dan mengimani isi dari hadits-hadits.


Sekian untuk bahasan kali ini. Semoga bermanfaat untuk kami dan para pembaca. Terimakasih…

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: