Bashair Darajat, Kajian Hadits ke-1

Bashair Darajat, Kajian Hadits ke-1

Kitab Basha’ir Darajat

Bashair Darajat. Kitab ini karya Tsiqatul Jalil wal Muhadits An-nabil Syaikh Al-qumiyyin Abu Ja’far Muhammad bin Al-hassan bin Furuz Ash-shafar, wafat tahun 290 H, beliau adalah salah satu sahabat Imam Hassan Al-‘askari AS.

Dalam hal kemuktabaran, kitab ini ada perbedaan pendapat dalam kalangan ulama Syi’ah. Ada yang berpendapat muktabar seperti kemuktabaran kitab-kitab ushul arba’ah seperti Al-kafi, dan ada juga yang berpendapat bahwa kemuktabarannya bermasalah.

 

Metode Kami Mengkaji Kitab Bashair Darajat

Untuk mencegah bahasan ikhtilaf yang berkepanjangan, maka kami akan mengambil jalan tengah, yaitu ketika mengkaji isi kitab ini, kami akan coba temukan matan dari kitab muktabar lain yang kemuktabarannya sudah menjadi ijma’ (semisal Al-kafi, Tahdzib, dan lain-lain) yang sama lafazhnya atau maknanya dengan matan dari kitab Basha’ir yang sedang dikaji ini. Sehingga kajian kitab ini dapat terfokus pada isi kitab, dan semoga kita dapat memetik hikmahnya.

Dalam mengkaji sanad kitab, kami akan menggunakan satu manhaj saja, yaitu manhaj sayyid Khu’i dalam kitab Mu’jam Rijal. Jika kami tidak menemukan keterangan mengenai perawi dalam Mu’jam, maka kami akan merujuk data tambahan dari kitab Mustadrakat ‘Ilmu Rijal Hadits, karya Syaikh ‘Ali An-namazi Asy-syaharudi. Akan tetapi jika kami menemukan keterangan yang cukup dalam Mu’jam, maka analisa kami cukupkan merujuk kepada Mu’jam.

Jadi jika kami cantumkan hasil analisa sanad, bahwa haditsnya shahih, hassan, muwatsaq, atau dha’if, maka itu adalah menurut manhaj sayyid Khu’i dalam Mu’jam, dengan perbandingan atau data tambahan dari Mustadrak Asy-syaharudi bukan menurut seluruh manhaj yang ada dalam syi’ah.

Hadits Pertama Dalam Bashair Darajat

حدثني إبراهيم بن هاشم عن الحسن بن زيد بن علي بن الحسين عن أبيه عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله طلب العلم فريضة على كل مسلم الا و ان الله يحب بغاة العلم

Telah menyampaikan kepadaku Ibrahim bin Hasyim dari Hassan bin Zaid bin ‘Ali bin Hussain dari ayahnya dari Abi ‘Abdullah AS, berkata telah berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa aalih:

“Menuntut ilmu itu fardhu (wajib) bagi setiap orang Islam. Bukankah Allah mencintai para penuntut ilmu?!”

A. Kajian sanad Kitab Bashair Darajat Hadits Pertama

Sanad dalam hadits tersebut di atas adalah:

1. Ibrahim bin Hasyim

Tsiqat. Dengan teks dalam Mu’jam :

أقول: لا ينبغي الشك في وثاقة إبراهيم بن هاشم

Aku berkata (Sayyid Khu’i) : tidak disangsikan lagi mengenai ketsiqatan Ibrahim bin Hasyim.

وقع إبراهيم بن هاشم. في إسناد كثير من الروايات تبلغ ستة آلاف و أربعمائة وأربعة عشر موردا

Menurut Sayyid Khu’i perawi Ibrahim bin Hasyim ini ada di sekitar 6414 (enam ribu enam ratus empat belas) sanad riwayat.

(Mu’jam Rijal, juz. 1, hlm. 291)

 

2. Hassan bin Zaid bin ‘Ali bin Hussain

الحسن (الحسين) بن زيد: ابن علي بن الحسين (عليهما السلام)، روى عن جعفر بن محمد (عليهما السلام) و روى عنه ابنه عبد الله. التهذيب: الجزء ٧، باب ابتياع الحيوان ،
الحديث ٣٤٣.

أقول: هو الحسين بن زيد بن علي الآتي

Hassan (Hussain) bin Zaid ibn ‘Ali bin Hussain AS, meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad AS, dan meriwayatkan darinya anaknya ‘Abdullah. Dalam Tahdzib, juz. 7, bab Ibtiya’ Al-hayawan, hadits 343.

Menurutku (Sayyid Khu’i): dia adalah Hussain bin Zaid bin ‘Ali. (Mu’jam Rijal, Juz. 5, hlm. 326)

الحسين بن زيد : = الحسين بن زيد بن علي.

وقع بهذا العنوان في إسناد جملة من الروايات تبلغ أربعة عشر موردا.

Hussain bin Zaid = Hussain bin Zaid bin ‘Ali

Perawi dengan nama ini terdapat pada 14 (empat belas) sanad. (Mu’jam Rijal, Juz. 6, hlm. 260)

الحسن بن زيد بن علي بن الحسين صلوات الله عليهما:
لم يذكروه

Hassan bin Zaid bin ‘Ali bin Hassan (Shalawat atas keduanya): tidak ada keterangan mengenainya. (Mustadrak , Juz. 2, hlm. 392)

وبالجملة الحسين بن زيد هذا مذكور في مشيخة يه في صواحب الأصول المعتمدة التي استخرج منها أحاديث كتابه

Bahasan mengenai Hussain bin Zaid ini di dalam Masyayikh termasuk kepada shahibul ushul mu’tamadah al-lati istikhraja minha ahadits kitabihi ( pemilik atau penulis ushul yang mu’tamad untuk mengeluarkan hadits dari kitabnya). (Mustadrak, juz. 3, hlm. 131-132)

Tidak ada keterangan dalam Mu’jam mengenai tsiqat, mamduh, atau kedha’ifan perawi ini. Perawi dengan sifat seperti ini dikenal dalam kajian ilmu hadits dengan istilah perawi Majhul.

Kemudian dalam Mustadrak, untuk nama Hassan bin Zaid bin ‘Ali bin Hussain, perawi ini majhul. Akan tetapi ketika pada nama perawi Hussain bin Zaid bin ‘Ali bin Hussain, dimana menurut Sayyid Khu’i perawi ini adalah orang yang sama dengan Hassan di atas, perawi ini mendapat keterangan Mamduh dengan kaidah مشيخة يه في صواحب الأصول المعتمدة التي استخرج منها.

3. Zaid bin ‘Ali bin Hussain

Tidak kami temukan keterangan mengenai ketsiqatan, mamduh, atau kedha’ifan perawi ini dalam Mu’jam. (Mu’jam Rijal, juz.8, hlm. 485-486)

كان مؤمنا ” وكان عارفا ” وكان عالما ” وكان صدوقا “، كما قاله مولانا الصادق عليه السلام في حقه

Dia Mu’min, arif, ’alim, shaduq. Seperti apa yang telah dikatakan menurut Maulana Shadiq AS mengenainya.

في آخر كفاية الأثر في النصوص على الأئمة الاثني عشر عليهم السلام، ذكر عدة من روايات زيد في ذلك وفيها دلالات على مدح زيد وكماله

Dalam akhir kitab Kifayatul Atsar fi Nushush ‘Ala A’imatu ‘Asyar AS. Dituturkan sejumlah riwayat Zaid di dalamnya. Dan itu menunjukkan atas keterpujiam Zaid dan kesempurnaannya. (Mustadrak, Juz. 3, hlm. 478 dan hlm. 479-480)

Dalam Mu’jam rijal ini majhul, dalam Mustadrak rijal ini adalah mamduh.

B. Kajian Matan 

Matan yang serupa dapat kami temukan dari teks dalam Al-kafi. Kami kutipkan satu hadits dengan lafazh yang sama.

أخبرنا محمد بن يعقوب، عن علي بن إبراهيم بن هشام [عن أبيه] عن الحسن ابن أبي الحسين الفارسي، عن عبد الرحمن بن زيد، عن أبيه، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قال رسول الله عليه السلام: طلب العلم فريضة على كل مسلم، ألا إن الله يحب بغاة العلم

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ya’qub, dari ‘Ali bin Ibrahim bin Hasyim (dari ayahnya) dari Hassan ibn Abil Hussain Al-faarisi dari ‘Abdurrahman bin Zaid dari ayahnya dari Abi ‘Abdillah AS, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah ‘alaihi salam:

“Menuntut ilmu itu fardhu (wajib) bagi setiap orang Islam. Bukankah Allah mencintai para penuntut ilmu?!” (Al-kafi, Al-kulayni, juz. 1, hlm. 30, hadits no. 1)

C. Syarah Matan Hadits

“Hadits ini menjelaskan mengenai kewajiban menuntut ilmu. Terjadi perbedaan mengenai ilmu apa yang fardhu untuk dituntut ini. Ahli fiqih mengatakan ilmu fiqih, ahli kalam mengatakan ilmu mengenai Allah, sifat-sifatnya, dan lain-lain. Ahli tafsir dan ahli hadits mengatakan ilmu kitab dan sunnah. Dan seterusnya. Tiap golongan pasti akan menyampaikan apa yang ada dalam golongannya.

Yang lebih tepat adalah hadits ini mengenai keumuman dalam hal kefardhuan dalam menuntut ilmu. Kefardhuan ini meliputi fardhu ‘aini dan kifa’i. Keumuman mengenai ilmu yang fardhu untuk dituntut ini, meliputi ilmu ushul dan furu’. Keumuman menuntut ilmunya, meliputi menuntut ilmu dengan cara mempelajari dali-dalil atau menuntut ilmu dengan cara taqlid. Disesuaikan dengan kemampuan”. (Syarah hadits kami ringkas dari Syarah Ushul Kafi, karya Maula Muhammad Shalih Al-maazandarani, juz. 2, hlm. 3-4)

Kesimpulan Bahasan Dari Kitab Bashair Darajat Hadits Pertama

Dari sisi sanad jika hanya menggunakan data dari Mu’jam, maka haditsnya dha’if, karena urutan tautsiq perawinya = tsiqat-majhul-majhul.

Jika menggunakan data tambahan dari Mustadrak, maka haditsnya :

*Hasan, jika Hassan adalah Hussein, karena urutan tautsiqnya = tsiqat-mamduh-mamduh.

*Dha’if, jika Hassan bukan Hussein, karena urutan tautsiqnya = tsiqat-majhul-mamduh.

Dari sisi matan, matan hadits dalam kitab Bashair Darajat hadits pertama ini muktabar karena ada juga dalam kitab muktabar lain yang sudah ijma mengenai kemuktabarannya, yaitu dalam Al-kafi.

Mengenai sanad hadits yang menjadi konfirmasi matan Bashair Darajat yang berasal dari Al-kafi kami tidak akan melakukan analisa, karena : ini ruangan bahasan basha’ir, bahasan akan menjadi sangat panjang karena perbedaan pendapat antar manhaj mengenai tautsiq rijal, dan khawatir malah membuat bingung bagi yang belum terbiasa mengkaji hadits.

Mudah-mudahan akan ada ruang lain untuk kami membahas Al-kafi pada bahasan yang khusus. Sekian untuk bahasan kali ini dan mudah-mudahan bermanfaat.

Allahuma shalli  ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: