Dalam artikel ini akan kami bahas mengenai Beberapa Istilah Dalam Ilmu Hadits Syi’ah. Tentunya dalam kajian hadits mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna’ ‘Asyariyah.

Hadits adalah sumber hukum kedua dalam kajian fiqih Islam setelah Al-qur’an. Dengan artian ketika para mujtahid melakukan ijtihad, para mujtahid melakukan analisa-analisa mendalam terhadap hadits-hadits yang akan dijadikan sebagai dalil bagi tiap fatwa yang akan diterbitkan atau ditulis.

Salah satu analisa yang dilakukan adalah menganalisa jenis-jenis hadits. Termasuk ke dalam kategori hadits apakah hadits yang akan dijadikan dalil, apakah shahih, hassan, muwatsaq atau dha’if, dan lain-lain. Selamat membaca.

 

Beberapa Istilah Dalam Ilmu Hadits Syi’ah

 

الصحيح؛ وهو ما اتصل سنده إلى المعصوم بنقل العدل الإمامي عن مثله في جميع الطبقات 

 

Shahih. Yaitu hadits yang saling bersambung sanadnya hingga ke para makshum, dengan menukil dari perawi yang adil, seorang imamiyah dan seumpamanya dalam seluruh tingkatannya.

 

 الحسن؛ وهو ما اتصل سنده – كذلك – بإمامي ممدوح من غير نص على عدالته في جميع مراتبه أو في بعضها، مع كون الباقي من رجال الصحيح

 

Hassan. Yaitu hadits yang saling bersambung sanadnya, dengan perawi seorang penganut imamiyah yang terpuji dengan tanpa nash atas keadilannya dalam seluruh atau sebagian tingkatannya. Serta sisanya haruslah bagian daripada rijal yang shahih (perawi yang shahih).

 

 الموثق – ويقال له: القوي – وهو ما دخل في طريقه من نص الأصحاب على توثيقه مع فساد عقيدته، ولم يشتمل باقيه على ضعف.وقد يطلق القوي على مروي الإمامي غير الممدوح ولا المذموم

 

Muwatsaq. Dan terkadang juga disebut dengan istilah القوي. Yaitu hadits yang dalam jalur periwayatannya terdapat perawi yang dianggap terpercaya akan tetapi rusak aqidahnya. Dan sisanya tidak termasuk kepada dha’if (yang lemah). Terkadang istilah hadits qawiy dikenakan kepada perawi yang imamiyah yang tanpa keterangan mengenai keterpujiannya ataupun ketercelaannya.

 

 الضعيف؛ وهو ما لا يجتمع فيه شروط أحد الثلاثة، بأن يشتمل طريقه على مجروح، أو مجهول، أو ما دون ذلك. 

 

Dha’if. Yaitu hadits yang padanya tidak terkumpul syarat-syarat yang telah disebutkan pada ketiga jenis hadits di atas. Seperti kelemahan jalur periwayatannya, majhul (tidak dikenal), dan lain-lain. 

 

 المسند؛ وهو ما اتصل سنده مرفوعا إلى المعصوم

 

Musnad. Yaitu hadits yang bersambung sanadnya secara marfu’ hingga para makshum.

 

وثانيها: المتصل – ويسمى أيضا الموصول – وهو ما اتصل إسناده، وكان كل واحد من رواته قد سمعه ممن فوقه، أو ما في معنى السماع، سواء كان مرفوعا أم موقوفا.

 

Mutashil. Dan dikenal juga dengan sebutan maushul. Yaitu hadits yang bersambung sanadnya, dengan kondisi setiap perawi mendengar langsung dari perawi sebelumnya, atau dalam makna السماع. Sama aja apakah hadits marfu atau mauquf.

 

وثالثها: المرفوع؛ وهو ما أضيف إلى المعصوم من قول، أو فعل، أو تقرير، سواء كان متصلا أم منقطعا 

 

Marfu’. Yaitu sesuatu yang disandarkan kepada para makshum, baik itu ucapan, pekerjaan, atau taqrir (pembiaran). Sama saja apakah berjenis mutashil atau munqati’. 

 

ورابعها: المعنعن؛ وهو ما يقال في سنده: ” فلان عن فلان “. والصحيح أنه متصل إذا أمكن اللقاء، مع البراءة من التدليس. وقد استعمله أكثر المحدثين

 

Mu’an’an. Yaitu hadits yang di dalam sanadnya ada perkataan seperti فلان عن فلان. Dan termasuk shahih jika dia mutashil yang terbukti اللقاء (terjadi pertemuan). Serta terlepas dari sifat tadlis. Hadits dengan sifat seperti ini banyak digunakan oleh para ahli hadits.

 

وخامسها: المعلق؛ وهو ما حذف من مبدأ إسناده واحد فأكثر. ولا يخرج عن الصحيح إذا عرف المحذوف من جهة ثقة، 

 

Mu’alaq. Yaitu hadits yang hilang awal sanadnya, baik itu satu perawi atau lebih. Dan tidak dikeluarkan dari jenis hadits shahih jika diketahui perawi yang dihilangkannya melalui jalur periwayatan yang terpercaya.

 

وسادسها: المفرد؛ إما عن جميع الرواة، أو بالنسبة إلى جهة كتفرد أهل بلد به ولا يضعف بذلك

 

Mufrad. Yaitu hadits yang bersendirian. Baik itu dari sisi seluruh perawinya, atau kebersendirian dari sisi kategori daerah atau negeri perawi.

 

سابعها: المدرج؛ وهو ما أدرج فيه كلام بعض الرواة، فيظن أنهمنه؛ أو متنان بإسنادين،

 

Mudraj. Yaitu hadits yang pada hadits tersebut dimasukan ucapan sebagian perawi, kemudian ucapan tersebut disangka sebagai bagian dari hadits. Baik itu dari sisi matan maupun sanad.

 

وثامنها: المشهور؛ وهو ما شاع عند أهل الحديث، بأن نقله رواة كثيرون؛ أو عندهم وعند غيرهم، كحديث: ” إنما الأعمال بالنيات “؛ أو عند غيرهم خاصة، 

 

Masyhur. Yaitu sesuatu yang telah umum atau terkenal dalam kalangan ahli hadits, karena banyaknya yang menukil riwayat. Atau telah terkenal dalam kalangan ahli hadits maupun bukan. Seperti hadits: “Segala perbuatan itu tergantung niat”. Atau hadits yang kadang hanya terkenal saja dalam kalangan yang bukan ahli hadits. 

 

وتاسعها: الغريب؛ إما إسنادا ومتنا، 

 

Gharib. Yaitu hadits yang ada keanehan di dalamnya, baik dari segi sanad maupun matan. 

 

وعاشرها: المصحف؛ والتصحيف يكون في الراوي وفي المتن؛ ومتعلقه إما البصر أو السمع؛ في اللفظ والمعنى 

 

Mushahaf. Adanya perubahan pada nama perawi atau matan hadits, akibat perubahan-perubahan ini baik karena penglihatan atau pendengaran. Pada lafazh ataupun pada makna.

 

وحادي عشرها: العالي سندا؛ وطلبه سنة، فبعلوه يبعد عن الخلل المتطرق إلى كل راو، وأعلاه قرب الإسناد من المعصوم، ثم من أحد أئمة الحديث، ثم بتقدم زمان سماع أحدهما على الآخر، وإن اتفقا في العدد أو عدم الواسطة فأولهما أعلى

 

‘Aali Sanad. Hadits yang memiliki jarak waktu yang tidak terlalu jauh dari para makshum. Yaitu dengan sedikitnya jumlah perawi dari awal sanad hingga akhir sanad. 

 

وثاني عشرها: الشاذ؛ وهو ما رواه الثقة مخالفا لما رواه الجمهور. ثم إن كان المخالف له أحفظ أو أضبط أو أعدل فشاذ مردود، وإن انعكس فلا،  

 

Syadz. Hadits ganjil. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi terpercaya akan tetapi menyelisihi hadits yang telah diriwayatkan oleh sebagian besar ahli hadits. Kemudian jika yang menyelisihi lebih hafizh, lebih dhabith,atau lebih adil, maka ke-syadz-annya ditolak. Jika sebaliknya (jika yang menyelisihi tidak lebih hafizh, tidak lebih dhabith,atau tidak lebih adil) maka hadits tersebut syadz. 

 

وثالث عشرها: المسلسل؛ وهو ما تتابع فيه رجال الإسناد على صفة أو حالة فيوالراوي قولا: كقوله: ” سمعت فلانا يقول: سمعت فلانا يقول ” إلى المنتهى؛ أو: ” أخبرنا فلان والله، قال: أخبرنا فلان والله ” إلى آخر؛ أو فعلا: كحديث التشبيك باليد، والقيام ، والاتكاء، والعد باليد؛ أو بهما: كالمسلسل بالمصافحة، وبالتلقيم أو في الرواية، كالمسلسل باتفاق أسماء الرواة وأسماء آبائهم، أوكناهم، أو أنسابهم، أو بلدانهم وقد يقع التسلسل في معظم الإسناد، كالمسلسل بالأولية. وهذا الوصف من فنون الرواية، وضروب المحافظة عليها. 

 

Musalsal. Yaitu hadits yang pada sanadnya terjadi sifat saling mengikuti dalam satu sifat. Seperti contoh: perawi A: ‘saya mendengar dari fulan’, perawi B: ‘saya mendengar dari fulan’, terus begitu hingga ujung sanad.  Atau A: ‘saya menerima berita dari fulan’, perawi B: ‘saya menerima berita dari fulan’, terus begitu hingga ujung sanad. Atau seperti contoh kesamaan sifat dalam perbuatan, seperti hadits menjalin tangan, berdiri, berbaring, atau menghitung dengan tangan. Dapat juga terjadi seperti kesamaan nama perawi, nama ayah perawi, gelar perawi, nasab perawi, dan negeri perawi. Hal-hal seperti ini banyak terjadi dalam sebagian besar sanad hadits. Dan ini adalah bagian dari kajian-kajian riwayat.

 

ورابع عشرها: المزيد؛ والزيادة تقع في المتن، والإسناد والأول مقبول من الثقة حيث لا يقع المزيد منافيا لما رواه غيره من الثقات ولو في العموم والخصوص والثاني كما إذا أسنده وأرسلوه، أو وصله وقطعوه، أو رفعه ووقفوه، وهو مقبولوكالأول؛ لعدم المنافاة.

 

Al-maziid, suatu hadits yang ada tambahan, baik tambahan dalam sanad ataupun matan. Tambahan dalam matan dapat diterima jika yang menambahkan adalah orang yang tsiqat, yang tambahannya tidak menyelisihi apa yang telah diriwayatkan oleh orang tsiqat yang lain, baik dalam keumumannya ataupun kekhususannya. Tambahan pada sanad baik itu mengisnadkan atau memursalkan, mewashalkan atau mengqatha’-kan, merafa’-kan atau memauqufkan adalah diterima seperti kasus tambahan pada matan, dengan syarat yang sama pula, yaitu tambahan dari tsiqat dan tidak menyelisihi apa yang telah ada dari orang tsiqat yang lain.

 

وخامس عشرها: المختلف؛ وهو أن يوجد حديثان متضادان في المعنى ظاهرا. وحكمه الجمع بينهما حيث يمكن ولو بوجه بعيد،

 

Al-mukhtalif, yaitu ditemukan dua hadits yang saling berlawanan dalam maknanya secara zhahir. Dan menghukuminya dengan mengkompromikan keduanya dengan cara apa saja yang dapat ditempuh.

 

وسادس عشرها: الناسخ والمنسوخ؛ والأول: ما دل على رفع حكم شرعي سابق . والثاني: ما رفع حكمه الشرعي بدليل شرعي متأخر عنهووطريق معرفته النص، أو نقل الصحابي، أو التاريخ، أو الإجماع

 

Nasikh dan mansukh, nasikh adalah sesuatu yang datang untuk mengangkat hukum syar’i pada sesuatu yang telah ada. Mansukh adalah suatu hukum syar’i yang telah ada yang diangkat hukumnya oleh suatu hukum syar’i yang datang kemudian. Keduanya terjadi melalui jalan makrifat nash (pengenalan terhadap teks syar’i), naql shahabiy (nukilan para sahabat), tarikh (sejarah), atau ijma’.

 

وسابع عشرها: الغريب لفظا؛ وهو ما اشتمل متنه على لفظ غامض بعيد عنزالفهم؛ لقلة استعماله. 

 

Gharib Lafazh, yaitu suatu kata atau kalimat yang ada pada matan hadits yang sulit untuk dipahami, karena sangat jarangnya kata atau kalimat itu digunakan.

 

وثامن عشرها: المقبول؛ وهو ما تلقوه بالقبول والعمل بالمضمون من غير التفات إلى صحته وعدمها، 

 

Al-maqbul, yaitu hadits yang diterima dan diamalkan dengan pemahaman dengan tanpa memperhatikan mengenai shahih atau tidaknya.


Cukup sekian mengenai bahasan Beberapa Istilah Dalam Ilmu Hadits Syi’ah. Mungkin masih banyak istilah-istilah dalam kajian hadits imamiyah yang belum dicantumkan dalam artikel ini. Mudah-mudahan pada kesempatan lain kami dapat menambahkannya. Semoga bermanfaat.

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad


Sumber:

Rasa’il fi dirayah al-hadits, Abu Al-fadhl Haafazhayaan Al-baabali, juz. 1, hlm. 126-129.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: