Shalatnya Orang Syi’ah

Shalatnya Orang Syi’ah

Pada artikel kali ini kami akan membahas mengenai tata cara shalatnya Syi’ah Imamiyah. Dalam bahasannya kami hanya menjelaskan secara global saja mengenai shalatnya Syi’ah Imamiyah, tidak secara terperinci. Karena tujuan artikel ini adalah sebagai bahan konfirmasi bagi yang ingin tahu atau sedang mencari informasi mengenai bagaimana tata cara shalatnya orang syi’ah dalam kajian fiqih Syi’ah Imamiyah. Selamat membaca.

Kewajiban-kewajiban Shalat

Shalat terdiri dari sebelas perkara wajib, yaitu:

  1. Niat
  2. Takbiratul Ihram
  3. Qiyam (kiam)
  4. Qiraat
  5. Rukuk
  6. Sujud
  7. Zikir
  8. Tasyahud
  9. Salam
  10. Tertib
  11. Berkesinambungan. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 218)

Catatan:

Sebagian dari kewajiban shalat merupakan rukun, yaitu bila tidak dilakukan dalam shalat atau dilakukan melebihi yang seharusnya, sekalipun karena ketidaksengajaan atau lupa, akan membatalkan shalat. Tetapi kewajiban selain rukun—ghairi rukn—bila dilakukan melebihi atau kurang dari yang seharusnya, dengan sengaja, maka akan membatalkan shalat, namun jika bukan karena kesengajaan, maka salat dihukumi benar, seperti dalam bacaan (qiraat) shalat. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 219)

 

Rukun-rukun shalat, terdiri dari:

  1. Niat
  2. Takbiratul Ihram
  3. Kiam (ketika saat takbiratulihram dan ketika hendak rukuk)
  4. Rukuk
  5. Dua sujud. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 219)

 

Penjelasan:

  1. Niat

Makna dan hukumnya

Niat merupakan sebuah kewajiban dalam shalat, dan yang dimaksud dengan niat di sini adalah maksud (keinginan, motivasi) untuk melakukan shalat tertentu dalam rangka ketaatan pada aturan-aturan Allah Swt. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 218 dan 220)

 

  1. Takbiratul Ihram

Makna dan hukumnya

Takbiratul Ihram merupakan salah satu kewajiban dalam shalat. Yang dimaksud dengan takbiratulihram adalah mengucapkan “Allahu Akbar (Allah Maha Besar)” pada awal shalat. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 218 dan 223)

Catatan:

Shalat batal jika tidak mengucapkan Allahu Akbar pada awal shalat, baik hal ini dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Demikian juga ketika pada awal shalat telah mengucapkan Allahu Akbar secara sah dan benar lalu mengucapkannya sekali lagi dengan niat yang sama, baik dengan jeda ataupun tidak. Hal ini juga akan membatalkan shalat, dan tidak ada perbedaan apakah kelebihan tersebut diucapkan secara sengaja ataupun tidak sengaja. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 224)

 

Kewajiban-kewajiban takbiratul ihram

  1. Takbiratul Ihram harus diucapkan sedemikian hingga dikatakan telah melafalkannya. Tanda-tandanya adalah dia sendiri bisa mendengar apa yang diucapkannya, tentu saja jika tidak ada gangguan pada telinga atau keributan di lingkungan sekitar. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 226)
  1. Takbiratul ihram harus diucapkan dengan bahasa Arab yang benar, jika seseorang mengucapkannya dengan terjemahan Parsi atau dengan bahasa Arab yang salah, misalnya huruf ha pada Allah dibaca dengan fathah (sehingga menjadi Allaha Akbar) atau sejenisnya, maka shalatnya dihukumi batal. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 225)

 

3. Qiyam (kiam) (berdiri, pada saat takbiratul ihram dan ketika hendak rukuk)

Jenis-jenis kiam:

  1. Kiam rukun, terdiri dari:
  • a.Kiam ketika membaca takbiratulihram
  • b.Kiam ketika hendak rukuk (kiam yang menyambung dengan rukuk)
  1. Kiam bukan rukun:
  • a.       Kiam ketika qiraat
  • b.       Kiam setelah rukuk

 

Penjelasan:

  1. Seseorang yang mampu dan tidak ada halangan untuk melakukan shalatnya dengan berdiri, maka sejak memulai shalat hingga rukuk, dia harus melakukannya dengan berdiri. Demikian juga wajib baginya untuk berdiri setelah rukuk dan sebelum sujud. Meninggalkan kiam secara sengaja dalam keadaan ini akan membatalkan salat. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 229)
  2. Berdiri pada saat takbiratulihram setelah selesai qiraat dan sebelum rukuk adalah rukun, yaitu meninggalkannya secara sengaja ataupun karena lupa, akan menyebabkan batalnya shalat. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 230)

Catatan:

Seseorang yang lupa melakukan rukuk dan langsung duduk setelah membaca al-Fatihah dan surah, jika pada saat itu dia teringat bahwa dia belum melakukan rukuk, maka dia harus bangkit dan melakukan rukuknya. Jika dia melakukan rukuknya tanpa bangkit melainkan dia hanya membungkukkan badannya untuk rukuk dalam keadaan duduk, maka salatnya batal. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 231)

 

  1. Qiraat

Bagian-bagian qiraat

Qiraat dalam salat-salat wajib harian terbagi menjadi dua:

  1. Qiraat pada rakaat pertama dan kedua, yaitu membaca al-Fatihah dan berdasarkan ihtiyath wajib membaca satu surah sempurna.
  1. Qiraat pada rakaat ketiga dan keempat, yaitu membaca al-Fatihah saja, atau satu kali membaca tasbih arba’ah, dan berdasarkan ihtiyath mustahab dianjurkan untuk membacanya sebanyak tiga kali.

Penjelasan:

  1. Pada rakaat pertama dan kedua shalat-shalat wajib harian setelah takbiratulihram, wajib bagi mushalli untuk membaca surah al-Fatihah dan setelah itu berdasarkan ihtiyath wajib, membaca satu surah sempurna dari al-Quran, karenanya tidak cukup hanya membaca satu atau beberapa ayat dari satu surah. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 242)
  2. Pada rakaat ketiga dan keempat, mukalaf boleh memilih untuk membaca surah al-Fatihah saja (tanpa membaca surah) atau membaca tasbih arba’ah yaitu membaca:سبحان الله و الحمد لله و لا اله الا الله و الله اکبر (Mahasuci Allah, Segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar). (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 262)

 

  1. Rukuk

Makna rukuk

Pada setiap rakaat setelah qiraat, terdapat satu rukuk wajib, dan yang dimaksud dengan rukuk adalah membungkukkan tubuh hingga kedua tangan bisa diletakkan pada kedua lutut.

Catatan:

Apabila setelah sampai pada posisi rukuk dan tubuh pun telah dalam keadaan tenang lalu mushalli mengangkat kepalanya kembali kemudian membungkukkan tubuhnya sekali lagi dengan tujuan untuk rukuk, maka shalatnya menjadi batal (karena rukuk adalah bagian dari rukun shalat dan menambahnya akan membatalkan shalat). (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 281)

 

  1. Sujud

Makna sujud dan hukumnya

Setelah rukuk pada setiap rakaat shalat, baik shalat wajib ataupun mustahab, wajib bagi mushalli untuk melakukan sujud. Yang dimaksud dengan sujud adalah meletakkan dahi di permukaan tanah dengan khudhu’ (merendahkan diri). (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 287)

Catatan:

  1. Dua sujud yang terdapat pada setiap rakaat merupakan rukun shalat, dengan artian bahwa jika mushalli meninggalkan keduanya atau menambahkan dua sujud lain padanya, baik hal tersebut dilakukan secara sengaja ataupun lupa, akan menyebabkan shalatnya batal. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 289)
  2. Apabila mushalli sengaja menambahkan satu sujud atau menguranginya, maka shalat menjadi batal, tetapi jika hal tersebut dilakukan karena ketidak sengajaan, shalat tidak akan menjadi batal, tetapi memiliki hukum-hukum yang nantinya akan dijelaskan. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 290 dan 291)

 

  1. Zikir

Makna zikir

Yang dimaksud dengan zikir adalah setiap lafal yang mengandung sebutan Allah ‘Azza wa Jalla (seperti Allahu Akbar, alhamdulillah, subhanallah). Dan salawat atas Muhammad saw dan keluarga Muhammad saw termasuk salah satu dari zikir yang termulia. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 487)

 

Kewajiban-kewajiban zikir

  1. Zikir-zikir shalat harus dibaca sedemikian hingga dikatakan sebagai melafalkannya, dan tandanya adalah dia mampu mendengar apa yang diucapkan oleh lisannya, tentunya apabila tidak ada kerusakan telinga atau keributan di lingkungan sekitar. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 226)
  2. Wajib hukumnya untuk membaca seluruh zikir wajib shalat dengan bahasa Arab yang benar. Jika mushalli tidak mengetahui bagaimana melafalkan kata-kata Arab dengan benar, maka wajib baginya untuk mempelajarinya. Jika tidak ada kemampuan untuk mempelajarinya, maka dia dimaafkan.
  3. Seluruh zikir shalat, baik yang wajib ataupun yang mustahab, wajib dibaca dalam keadaan tubuh yang tenang. Apabila ia hendak bergoyang ke depan dan ke belakang atau menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan, maka zikir yang sedang diucapkan dalam keadaan ini harus dia hentikan terlebih dahulu. Tentunya, zikir yang dibaca dengan tujuan membaca zikir secara mutlak, tidak menjadi masalah apabila dibaca dalam keadaan tubuh yang bergerak. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 343, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 232 dan 233)

 

  1. Tasyahud

Makna tasyahud dan hukumnya

Pada rakaat kedua dari seluruh shalat, demikian juga pada rakaat ketiga dari shalat Magrib dan rakaat keempat shalat Zuhur, Asar dan Isya, setelah melakukan sujud kedua, mushalli harus duduk dan mengucapkan kalimat yang nantinya akan dikatakan dalam zikir tasyahud, setelah tubuh berada dalam keadaan tenang. Dan amalan ini dinamakan dengan tasyahud. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, masalah 329)

 

  1. Zikir dalam tasyahud

Zikir wajib yang dibaca pada saat tasyahud adalah:

“اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شریکله و اشهد ان محمدا عبده و رسوله اللهم صل علی محمد و ال محمد”

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 330)

Catatan:

Sebelum mengucapkan kalimat di atas, mustahab untuk mengucapkan ” الحمد لله” atau mengucapkan “بسم الله و بالله و الحمد لله و خیر الاسماء لله”, demikian juga setelah membaca salawat, mustahab untuk membaca “و تقبل شفاعته و ارفع درجته”

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 330)

Menghentikan ucapan pada kata Muhammad saw dalam kalimat “اللهم صل علی محمد” pada tasyahud, kemudian melanjutkan dengan membaca “و ال محمد” selama tidak merusak kesatuan kalimat, maka hal ini tidaklah bermasalah. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 464)

 

  1. Salam

Makna salam dan hukumnya

Bagian terakhir dari shalat yang dengan mengucapkannya berarti bahwa shalat telah usai dilakukan adalah salam. Salam yang diwajibkan dalam shalat adalah mengucapkan “السلام علیکم” dan lebih baik dengan menambahkan

 “”ورحمة الله و برکاته atau mengucapkan bacaan “السلام علینا و علی عباد الله الصالحین”

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 333)

Catatan:

Sebelum mengucapkan dua salam di atas, mustahab untuk mengucapkan

 ” السلام علیک ایها النبی و رحمة الله و برکاته”(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, masalah 333)

 

  1. Tertib

Makna tertib dan hukumnya

Mushalli harus melakukan shalatnya sesuai dengan ketertiban yang telah disebutkan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, dan menempatkan tiap-tiap bagiannya pada tempatnya masing-masing. Jadi, jika seseorang merusak ketertiban ini secara sengaja, misalnya membaca surah terlebih dahulu sebelum membaca al-Fatihah atau melakukan sujud terlebih dahulu sebelum rukuk, maka shalat menjadi batal. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 335)

 

Ketiadaan perhatian yang tak disengaja dalam masalah ketertiban shalat

Tidak sengaja mendahulukan bagian yang satu atas bagian lainnya, terbagi dalam:

  1. Mendahulukan rukun satu dari rukun lainnya, seperti lupa melakukan dua sujud, dan dia baru teringat ketika tengah melakukan rukuk pada rakaat berikutnya, berarti shalatnya batal.
  2. Mendahulukan yang bukan rukun atas rukun, seperti lupa melakukan dua sujud dan langsung membaca tasyahud, dan pada saat inilah dia teringat bahwa dia belum melakukan dua sujud, maka dia harus melakukan rukun yang belum dilakukannya dan mengulang kembali apa yang telah keliru dia lakukan.
  3. Mendahulukan rukun atas selain rukun, seperti lupa membaca al-Fatihah dan dia teringat setelah memasuki rukuk, maka shalatnya benar.
  4. Mendahulukan selain rukun atas selain rukun, seperti membaca surah terlebih dahulu dan lupa membaca al-Fatihah, dan sebelum memasuki rukuk dia menyadari ternyata belum membaca al-Fatihah, maka dalam keadaan ini dia harus membaca apa yang dia lupakan (misalnya al-Fatihah) dan setelah itu membaca kembali apa yang telah keliru dia dahulukan (misalnya membaca surah). (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 336, 337, 338 dan 339)

 

  1. Berkesinambungan

Mushalli harus melakukan bagian-bagian shalat seperti rukuk, sujud, tasyahud dan selainnya dengan bersinambung yaitu berturut-turut dan tidak memberikan jarak yang panjang atau tak wajar di antaranya. Jadi bila mushalli memberikan jarak di antara bagian-bagian salatnya sehingga orang yang melihatnya menganggapnya telah keluar dari keadaan shalat, maka salatnya batal. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 340)

 

Catatan:

Apabila mushalli dalam bacaannya memberikan jarak antara kalimat-kalimat atau memisahkan huruf-huruf dalam satu kata dengan cara yang tak wajar tetapi tidak merusak keadaan shalat, jika dia menyadarinya ketika telah memasuki rukun berikutnya, maka shalatnya dihukumi sah, dan tidak ada kewajiban untuk mengulang kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut. Tetapi bila dia menyadarinya sebelum memasuki rukun berikutnya, maka dia harus kembali dan mengulang pelaksanaannya. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 341)

 

Qunut

Makna qunut dan hukumnya

Pada rakaat kedua seluruh shalat wajib dan mustahab, seusai membaca al-Fatihah, surah dan sebelum rukuk, mustahab untuk mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Amalan ini dinamakan qunut. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 342)

Catatan:

  1. Pada rakaat awal shalat Jumat, qunut dibaca sebelum rukuk dan pada rakaat kedua dibaca setelah rukuk. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 342)
  2. Sementara pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha, rakaat pertama memiliki lima qunut dan rakaat kedua memiliki empat qunut. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Salat, Masalah 342)

 

Zikir qunut

Pada waktu qunut, mushalli bisa membaca setiap zikir, doa atau salah satu ayat dari al-Quran, bahkan bisa pula mencukupkan diri dengan membaca satu kali shalawat atau membaca:

سبحان الله, بسم الله,بسم الله الرحمن الرحيم 

(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan menyebut nama Allah, Segala puji bagi Allah),

tetapi lebih baik untuk membaca doa-doa yang ada di dalam al-Quran, seperti doa berikut:

 ربنا اتنا في الدنيا حسنة و في الاخرة حسنة و قنا عذب النا

(Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksaan api neraka)

atau membaca zikir-zikir dan doa-doa yang dinukilkan dari para Imam Ahlulbait as, seperti zikir berikut:

“لا اله الا الله الحليم الكريم لا اله الا الله العلي العظيم سبحان الله رب السموات السبع و رب الارضين السبع و ما فيهين و ما بينهن و رب العرش العظيم و الحمد الله رب العالمين”

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 343)

 

Ta’qib

Ta’qib shalat tidak wajib diucapkan dengan bahasa Arab, tetapi lebih baik untuk membaca zikir-zikir dan doa-doa yang berasal dari para imam as. Di antaranya yang paling baik adalah zikir yang terkenal dengan nama Tasbih az-Zahra ‘alaihassalam. Caranya adalah membaca الله اكبر”” (Allah Maha Besar) sebanyak 34 kali, “الحمد لله ” (Segala puji bagi Allah) sebanyak 33 kali dan membaca “سبحان الله” (Mahasuci Allah) sebanyak 33 kali. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 345)

Catatan:

  1. Pada kitab-kitab doa telah dinukilkan sebuah ta’qib-ta’qib yang berasal dari para imam as dan mengandung kemuliaan dan kata-kata yang sangat indah. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 345) 
  2. Sesuai shalat, mustahab untuk melakukan sujud syukur yaitu meletakkan dahi di atas tanah dengan tujuan untuk bersyukur atas segala nikmat dan taufik yang diberikan oleh Allah atas salat. Bacaan yang lebih baik untuk diucapkan dalam sujud ini adalah “شكرا لله ” (syukran lillah) sebanyak tiga kali atau lebih. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Shalat, Masalah 346)

Sumber:

Daras Fiqih Ibadah: Ringkasan Fatwa Imam Ali Khamene’i, Muhammad Ridha Musyafiqi Pur, hlm. 182-236, Penerbitan. Penerbit Nurul Huda, cet. 1 thn. 2010 M/1431 H, cet. 2 thn. 2013 M/1434 H.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: